Jejak Ekologis

by - Januari 16, 2019


Maudy menguap. Ini yang ketiga kalinya sejak ia duduk di kursi 10 menit yang lalu. Ia baru tiba di Stasiun Gambir dini hari dan langsung melesat ke Sudirman. Ia mewakili kantor cabang untuk mengikuti pelatihan di pusat. Isu lingkungan sedang santer dibahas semenjak longsornya jalan di Surabaya. Mendadak, kantornya yang tak pernah peduli lingkungan mengadakan pelatihan lingkungan. Apes, Maudy ditunjuk hanya karena satu-satunya karyawan yang selalu mengisi vas dengan bunga asli di kantor. Padahal, mana dia peduli.

Sekarang didera rasa kesal karena kelopak mata yang tak mau diajak kompromi sekaligus pusing dengan materi yang sedari tadi berputar-putar menyebut jejak ekologis, Maudy memutuskan untuk memejamkan mata. Baru beberapa menit Maudy tertidur, ada yang menepuk pundaknya. Maudy berjingkat. “Duh, aku ketahuan tidur.” gumam  Maudy dalam hati. Ia menoleh.

Seorang laki-laki nyengir, “Ngantuk?”

Maudy ikut nyengir. Malu. Ia mengangguk.

“Sini, lihat tanganmu.” Serasa dihipnotis, Maudy mengulurkan tangan. “Begini.” Laki-laki itu membuka telapak tangannya keatas untuk memperagakan. Maudy mengikutinya.

“Yuk.” 

Tiba-tiba si laki-laki itu sudah menangkupkan jari-jarinya ke telapak tangannya lalu bangkit dari tempat duduk. Maudy otomatis tertarik berdiri dari kursinya. Ia sempat ingin berteriak namun pada akhirnya menahan diri daripada membuat keributan. Untung saja ia duduk di dereretan paling belakang sehingga tidak mencolok ditengah peserta pelatihan yang lain. Maudy memilih untuk mengekor di belakang laki-laki meski dalam hati ia bersungut-sungut. “Laki-laki kurang ajar.”

Ternyata laki-laki itu memasuki pantry. Barulah ia melepas tangan Maudy setelah pintu tertutup. Maudy merengut. 

“Aku punya es kopi, mau?”

Laki-laki itu mengeluarkan gelas besar yang mengeluarkan aroma kopi dari lemari es. Tak urung Maudy tersenyum. Maudy mengangguk dan mengulurkan tangannya.

“Tunggu.”

Laki-laki itu berjalan ke arah tempat sendok lalu membagikan ke Maudy semacam pipa kecil dari stainless steel. “Karena cuma satu gelas, bagi dua ya. Ini pakai sedotan, biar bibir kita tidak bersinggungan di gelas.” Laki-laki itu mengedipkan mata jahil.

Maudy kembali memasang wajah masam sembari mengamati benda yang kini di tangannya. Sedotan stainless? Baru pertama kali ia melihatnya. Saat ia sedang asyik mengamati benda aneh itu, si laki-laki sudah menghabiskan separo bagiannya lalu memberikannya pada Maudy.

“Eh, aku lupa mempersilakan perempuan terlebih dahulu. Tidak apa-apa ya.”

Duh, tidak sopan sekali laki-laki ini, gerutu Maudy. Ia meletakkan sedotan di meja lalu beranjak membuat kopi panas. Sayang, ternyata tidak ada air panas meski tersedia bubuk kopi. Laki-laki itu kembali menawarkan es kopinya. Maudy mengalah. Ia mengambil sedotan dan menghabiskan bagiannya. Tandas.

Laki-laki itu terbahak-bahak melihat aksinya. “Sudah lebih baik? Yuk kembali ke ruangan.”

Maudy memilih mendahului sebelum tangannya diraih seperti tadi. Kali ini, laki-laki itu yang mengekor dibelakangnya.

“Eh, ada yang ketinggalan.”

Maudy terhenti. Laki-laki itu kembali ke tempat sendok lalu meraih tangannya. Ia meletakkan sedotan yang tadi dipakainya berikut sebuah benda mirip sikat kecil.

“Jangan lupa dicuci, dikeringkan lalu disimpan.” Pesan laki-laki itu sebelum meninggalkannya. Maudy bengong, tak habis pikir ada makhluk seperti itu.

***
Hari kedua. Maudy memutuskan untuk datang paling akhir dan kembali  duduk di belakang. Semalam ia tidak bisa tidur karena badannya protes. Kelelahan. Ia tak terbiasa melakukan perjalanan jauh. Ini bisa dibilang perjalanan dinas pertama kalinya. Maudy baru menyandarkan badannya ketika sebuah tumbler teracung di depannya.

“Es kopi. Untukmu.”

Lagi-lagi laki-laki itu. Maudy memandanginya, bingung harus bersikap bagaimana. Si laki-laki menggoyangkan tumbler itu. Seakan kembali menawarkan. 

“Daripada aku harus menarikmu lagi ke pantry. Mau?”

Itu serasa ancaman bagi Maudy. Tak mau ambil resiko, Maudy segera menerima botol dan meletakkannya ke tas. Untungnya dia membawa tas yang cukup besar.

“Kau sudah mencucinya?”

Laki-laki itu nampaknya belum mau membiarkan Maudy menyimak materi yang sudah dimulai.

 “Apa?” tanya Maudy balik. 

“Sedotan. Kau bawa tidak hari ini?”

Maudy teringat sedotan yang bertengger di wastafel. Jadi satu dengan sikat gigi dan pasta gigi. Tadinya  berfikir hendak membuang sedotan itu.

“Pasti tidak dibawa.” tebak laki-laki itu. “Meski hanya sedotan, itu baik untuk mengurangi sampah plastik. Termasuk dengan membawa tumbler itu. Lihat, materi didepan. Jangan sampai aktivitas kita meninggalkan jejak dibumi yang membebaninya. Bayangkan berapa lama bumi bisa mengurai sedotan dan sampah plastik lainnya. Semakin lama tidak terurai, itu akan semakin menumpuk. Itu namanya jejak ekologis. Paham?”

Maudy mencibir. Meski terdengar menyebalkan, ia membenarkan ucapan laki-laki itu. Maudy baru menyadarinya.

“Oh ya, tumbler itu juga untukmu. Jangan lupa dicuci, jangan dibuang.” Maudy mendelik. Lama-lama laki-laki ini mirip cenayang. 

*** 
Maudy mampir ke minimarket. Ia kehabisan cemilan. Semalam ia tersiksa menghabiskan malam tanpa bisa mengunyah. Kemarin Maudy belum tahu kalau ada minimarket beberapa langkah dari hotel..

“Pakai ini saja mbak.”

Maudy menoleh. Ia melihat laki-laki itu ada di belakangnya. Si laki-laki memberikan totebag ke kasir minimarket. Tanpa banyak kata, kasir menurut dan mulai memasukkan belanjaan Maudy sembari menghitung totalan. Maudy menerima totebag penuh belanjaan setelah memberikan uang sejumlah nominal yang ia belanjakan.

“Tunggu.” Laki-laki itu menghentikan langkah Maudy.  Ia bergegas membayar belanjaannya yang tak seberapa dan segera menjejeri langkah Maudy. 

“Titip.” Ia mengulurkan belanjaannya yang ternyata hanya sebotol air mineral.

“Katanya mengurangi sampah plastik?”’ cibir Maudy sambil memasukkan botol itu ke totebag. 

“Aku belum sempat belum tumbler. Tumblerku sudah aku berikan untukmu.”

Laki-laki itu menjawab sambil melenggang kedepan. Maudy tertegun. Si laki-laki menoleh,“Ayo, mau ke hotel khan? Kita menginap di hotel yang sama.”

Entah mengapa Maudy kali ini tertawa kecil. Semalaman, mereka menghabiskan waktu membahas segala sesuatu tentang gaya hidup minim sampah. Maudy belajar banyak dari laki-laki misterius yang ternyata bernama Hita. Sebagaimana ia mulai menyukai pribadi Hita, ia juga berjanji untuk ikut gerakan minim sampah sebagaimana yang sudah dipraktekan Hita sehari-hari.

***
Hari ketiga. Pelatihan hari ini hanya berisi acara penutupan dan penghargaan simbolis bagi siapapun yang sudah menerapkan gaya hidup minim sampah. Maudy yang saat itu membawa lengkap totebag berisi tumbler dan sedotan stainless pemberian Hita terpilih menjadi peserta yang menerima bingkisan. Ketika maju ke depan, Maudy menyapu pandangannya ke seluruh peserta. Aneh, ia tidak menemukan Hita. Maudy merasa kehilangan. 

"Berhubung bapak pimpinan pusat yang baru sedang berhalangan hadir, saya mewakili bapak Tri H. Kirana untuk menyerahkan bingkisan ini. Beliau berharap pelatihan ini tidak hanya sekadar simbolis tapi juga menjadi gaya hidup kita sehari-hari sebagaimana nona cantik ini."

Semua peserta tepuk tangan. Mady tersenyum menganggguk dan mengucapkan terima kasih sambil terus bertanya-tanya, "Dimana Hita?"

Maudy menerima bingkisan berupa kotak berpita tali jalinan akar dan notes dari kertas daur ulang. Sepintas ia melihat catatan di notes yang berbunyi,  “Mohon dibuka ketika sampai dirumah.” 

Sampai acara berakhir dan Maudy kembali ke hotel untuk berkemas, ia tak kunjung menemukan Hita. Maudy baru sadar ia bahkan tak bertukar kontak dengan Hita meski banyak berbincang dengannya kemarin. Maudy memutuskan pulang  ke kotanya meski ia merasa janggal tak sempat berpamitan dengan Hita. Ia merasa Hita telah meninggalkan jejak ekologis dihatinya. Tak lupa, ia membawa pemberian Hita yang kini telah tersimpan rapi di koper. Tentu saja, ia sudah mencuci dan mengeringkannya terlebih dahulu setelah digunakan seperti pesan Hita. Maudy melenguh. Hita seakan sudah merasuki hati, pikiran dan tingkah lakunya.


*** 
Maudy bahkan belum berganti pakaian ketika ia bergegas membuka kotak bingkisan. Sepanjang perjalanan Maudy mendekap kotak bingkisan itu. Maudy merasa bingkisan itu memang khusus diberikan untuknya. Ketika kotak terbuka, Maudy menemukan sepucuk surat tergeletak di dasar kotak. Maudy membuka surat yang terlipat itu perlahan.

Dear Maudy,
Maaf aku tak berpamitan karena sesungguhnya aku tak ingin terpisah darimu. Aku menunggumu di ruang tamu.

Pria ajaib,
Hita

Maudy ternganga. Ia segera berlari menuju ruang tamu. Hita tengah duduk berbincang dengan kedua orang tua Maudy. Hita tersenyum ketika melihat Maudy sudah berdiri mematung di pintu penghubung antara ruang tengah dengan ruang tamu. 

"Sini nak, ada yang sudah menunggumu sejak tadi." ajak ibunya. Maudy bingung, tadi dia tak melihat siapapun ketika masuk kamar yang pastinya melewati ruang tamu. Ia hanya menemukan bapak ibunya dan sempat berbincang sebentar sebelum menghambur ke kamar. Hita mengedipkan mata. Kedipan jahil Hita seperti pertanda bahwa ini pasti ada campur tangannya.

 “Laki-laki ini, yang mengaku bernama Tri H. Kirana, memintamu untuk hidup bersamanya selamanya dengan konsep apa itu? Zerowaste?, apakah kamu bersedia?” tanya ayah Maudy. Maudy tak lagi bisa berkata-kata.

***
Postingan ini diikutkan dalam #BlogChalenggeGandjelRel #Roadto4thGandjelRel pekan 2 dengan tema: Fiksi Zerowaste


You May Also Like

3 komentar

  1. Duuuhh Hita, romantis banget langsung ngelamar Maudy nih. ;)

    BalasHapus
  2. Waow..grak cepat ya si Hita...so sweet menerapkan learning by doing nih kayaknya :)

    BalasHapus
  3. Ni cowok tengil banget sih, tapi bikin penasaran hahahaha

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan kesan.