Melanglang Buana Hingga Ke Pantai Sayang Heulang

by - Februari 18, 2018


Garut. Tidak ada bayangan destinasi wisata yang Fenny bayangkan sebelumnya, hiihihiii maafkan ya urang Garut, nuhun. Dari awal, tujuan Fenny memang hanya ingin silaturahim ke beberapa teman dunia maya sesama pebisnis online. Benar-benar hanya akan menghabiskan waktu dirumah. Secara, sesama pebisnis online kalau sedang kumpul bisa bahas teknik jualan sampai berhari-hari pun nggak kelar. Apalagi, teman yang Fenny datangi adalah salah satu founder  Sashee yang produksinya mencapai puluhan ribu pasang kaos kaki setiap bulannya, yaitu teh Eka Deliana Nugraha. Ini juga reseller buku terbaik waktu Fenny menerbitkan buku indie pertama kali yang berjudul Couplepreneur Bikin Baper. Ada juga teh Nadia Tahsinia, owner Flasco. Teh Nadia ini distributor pakaian anak  dengan penjualan puluhan ribu pcs setiap bulan. W.O.W khan?

Fenny menuju Garut dari arah Bandung, tepatnya Terminal Cicaheum. Informasi awal, perjalanan Bandung-Garut hanya membutuhkan waktu 1,5 jam, jika naik kendaraan pribadi. Saat itu Fenny naik bus. Jenis busnya termasuk kategori ekonomi. Tarif 25.000. Kondektur bus yang awalnya bilang akan langsung tancap gas ternyata hanya rayuan gombal. Baru keluar dari terminal, bus ngetem (baca: berhenti di suatu tempat untuk menunggu penumpang bus sampai kapasitas penuh atau sesuai keinginan sopir) hampir setengah jam. Ketika sampai di perbatasan kota Bandung, bus ngetem lagi. Sejam. Ditambah dengan kondisi jalan yang macet efek liburan Imlek, jadilah perjalanan memakan waktu 4 jam saudara-saudara, hahaha.

Sesuai pesan teh Nadia, Fenny turun di Simpang Tiga Tarogong, Garut.Bisa dibilang, Simpang Tiga Tarogong ini adalah alun-alun alias pusat kota Garut. Saat turun dari bus, byur!!! Hujan deras turun. Alhamdulillah, Fenny bisa berteduh di Masjid Agung sambil menunggu jemputan teh Nadia yang tinggal di PERSIS, Simpang Lima, Garut.
 
Setengah jam kemudian, Fenny sudah menuju ke rumah teh Eka yang berada di Sampang, Garut. Sesampainya dirumah teh Eka, sudah bisa ditebak obrolan kami seputar sharing dan curhat sesame pebisnis online. Tak terasa malam sudah tiba. Teh Nadia pamit sambil membuat janji untuk bersama-sama ke pemandian air panas. Rupanya letak Garut yang berada di ketinggian membuat banyak potensi tempat wisata pemandian air panas. Salah satunya pemandian air panas Cipanas. Pemandian air panas Cipanas letaknya ke arah kota Bandung dan dekat dengan pusat oleh-oleh Chocodot khas Garut.
 
Sayangnya, Fenny dan teh Eka bangun kesiangan. Sudah terlalu panas kalau untuk berendam. Akhirnya rencana berendam batal dan Fenny ikut teh Eka ke daerah Pameungpeuk, Garut untuk suatu urusan. Dari awal, teh Eka sudah menyampaikan bahwa perjalanan akan memakan waktu 2-3 jam. Okelah, tidak masalah. Namun ternyata, medan yang ditempuh berkelok-kelok melintasi bukit dan tebing. Makin lama makin asoooy dan membuat perut seperti dikocok-kocok. Akhirnya setelah sekian lama, Fenny mabok perjalanan. Alhamdulillah, masih bisa terkondisi.
 
Ketika urusan teh Eka selesai, orang tua teh Eka yang ikut serta yang ikut serta mengusulkan untuk ke pantai. Fenny baru sadar ternyata wilayah Garut itu sangat luas hingga memiliki area pegunungan dan pantai seperti Yogyakarta.Ada pantai Cijeruk yang lebih dominan hutan bakau, ada pula Pantai Sayang Heulang, Pantai Santolo dan beberapa pantai lainnya. Orang tua teh Eka merekomendasikan pantai Sayang Heulang. Oke, cusss kita menuju lokasi.
 
Sebagaimana wisata pantai lainnya, ada gerbang dan pintu loket sebelum masuk lokasi. Pengunjung dipungut biaya masuk. Saat kami masuk, penjaga loket tidak ada ditempat. Kami pun bisa masuk dengan gratis.Tarif normal Rp 10.000 per orang.
 
Sepintas, pantai Sayang Heulang tidak terlalu istimewa. Namun Fenny salut dengan jejeran penginapan dan warung yang rapi. Di sisi dekat pantai, beberapa gazebo disediakan gratis. Sita, anak Fenny yang usia 3 tahun tiba-tiba berteriak heboh ketika melihat ayunan. Tidak hanya gazebo, beberapa ayunan juga digantungkan di pepohonan yang rindang. 


Dari pintu masuk, kami mengarah ke pantai bagian kanan. Sesampainya di gazebo yang kosong, kami berhenti lalu memesan cuanki yang dijajakan oleh pedagang keliling. Kuah yang panas dengan sambal pedas, nikmatnyaaaa. Cocok untuk mengatasi perut begah akibat mabok perjalanan. Ditambah lagi minuman khas pantai, es kelapa muda. Segaaaaarrrrr…


.
 
Ombak cukup besar meski situasi pantai sedang surut. Beberapa karang dan rumput laut yang mengering terlihat dari atas gazebo. Fenny tidak terlalu tertarik untuk turun. Medannya juga tidak aman untuk Sita. Jadinya kami asyik bermain ayunan dan foto-foto.


Mamang penjaja cuanki menyarankan kami untuk pindah ke pantai bagian kiri dari pintu masuk. Konon, ada bukit teletubbies di bagian ujung kiri pantai. Selesai menikmati cuanki dan es kelapa muda, kami memutuskan untuk mengikuti saran tersebut.
 
Sambil menaiki kendaraan pelan-pelan, kami menyusuri  bagian pantai yang lain. Wah, ada sisi pantai yang landai dengan area genangan air laut yang tenang, dan … pasir putih!. Meski tidak menemukan bukit teletubbies seperti yang disampaikan mamang penjaja cuanki, kami memutuskan untuk berhenti di salah satu gazebo yang dekat dengan bagian pantai pasir putih.


Beda di lokasi sebelumnya, kami bisa menikmati bagian bibir pantai. Pasir putih, air yang bening dan tenang dengan limpahan cahaya matahari yang terang tapi tidak menyengat sangat menyenangkan. Kami puas berfoto-foto, bermain air, berjalan dan menggambar diatas pasir putih. Uniknya, pantai Sayang Heulang di bagian sisi kiri pintu masuk seperti ada pembatas antara pantai dengan laut yang dijangkau ombak. Jadi aman untuk berenang, berendam atau sekedar bermain air .
Tidak terasa, waktu sudah semakin sore. Kami sudah tidak lagi berlama-lama menikmati pesona pantai Sayang Heulang. Fenny harus kembali mengejar kereta arah kembali ke Yogyakarta. Apalagi, informasi dari penduduk setempat, stasiun yang menjadi lokasi pemberangkatan kereta berjarak ratusan kilometer dari pantai.
 
Menjelang maghrib, kami masih berada di Tasikmalaya. Sekitar 3 jam dari pantai Sayang Heulang, Garut. Rupanya, informasi yang kami dapatkan sebelumnya salah. Penduduk sekitar pantai tadi mengira kami menuju Cibatu, Tasikmalaya. Padahal yang kami maksud adalah Stasiun Cibatu, Garut. Jika menurut petunjuk di maps, Stasiun Cibatu masih berjarak 70 km dari kota Tasikmalaya. Artinya masih dua jam lagi. Padahal jadwal kereta Fenny dari Stasiun Cibatu pukul 19.30 WIB.
 
Akhirnya, Fenny memutuskan untuk menuju stasiun Tasikmalaya. Tidak jauh dari lokasi terakhir kami berhenti ketika sinyal untuk melacak maps sudah mulai ada. Alhamdulilah, Fenny bisa naik kereta yang sudah Fenny beli tiketnya dari Stasiun Tasikmalaya. Tidak harus dari Stasiun Cibatu sesuai lokasi awal pemberangkatan kereta yang tertera di tiket. Alhamdulillah, legaaaaa…
 
Wisata ke Pantai Sayang Heulang, Garut kali ini memang tidak terduga. Kami melanglang buana dari Garut, pantai hingga tersasar sampai Tasikmalaya. Beruntung, kedua orang tua teh Eka pun bisa santai saja menghadapi masalah meski beliau berdua jadi ikut berlelah-lelah di perjalanan. Semoga beliau berdua senantiasa diberi kesehatan. Aamiin.
 
Pukul 21.00 WIB, Fenny sudah berada di kereta ekonomi Kahuripan tujuan Yogyakarta. Handphone yang semula mati sudah bisa di charge di kereta dan menyala. Ketika menyala, ada pesan masuk dari teh Nadia.
 
“Mbak Fenny, ini Nafla nagih berendam dengan Sita lhooo, kapan-kapan kesini lagi yaaa!”
 
Hahaha, Fenny tertawa membaca pesan tersebut. Baiklah, semoga bisa berkesempatan melanglang hingga ke Garut lagi

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan KESAN.